Artikel

Referensi Akhlaq

            Manusia diciptakan Allah sebagai khalifah[1]  dimuka bumi ini untuk menjadi pemimpin, pemelihara serta penjaga kelestarian semua yang ada didalamnya. Untuk itu, maka Allah memberi bekal manusia dengan akal sehingga dapat mendorong manusia untuk menganalisis, mana yang maslahah dan mana yang lebih maslahah demi kelangsungan hidup mereka didunia ini, sebagaimana fitrah asal yang dianugrahkan oleh Allah kepada  mereka. Karena, secara kodrati manusia akan selalu condong pada hal-hal yang sifatnya baik dan indah.

Disamping itu, manusia juga dibekali dengan yang namanya nafsu. Dengan nafsu manusia akan mendapatkan dorongan yang ekstra untuk bisa melestarikan  hidup mereka dan lingkungan alam sekelilingnya, walaupun kebanyakan nafsu mengajak pada hal yang buruk, sebagaimana yang termaktub dalam kitab Al-Qur’an.[2] Oleh karena itu, selain menjadi anugrah tuhan, nafsu juga berperan sebagai cobaan bagi manusia, apakah mereka bisa mengarahkannya pada hal yang positif, ataupun yang negatif, sehingga pada finalnya akan menentukan kwalitas dari manusia itu sendiri.  Tapi, juga tidak bisa dibayangkan, bagaimana jadinya bila Allah tidak memberikan nafsu pada manusia, sehingga mereka tidak menginginkan makan, tidak tertarik pada lawan jenis, dan lain sebagainya yang akhirnya akan menjadikan manusia  lemah dan musnah, karena tidak ada pelestarian keturunan.

Dalam praktek kesehariannya, manusia juga memerlukan suatu hukum perundang-undangan guna menjaga hak-hak mereka dari gangguan-gangguan pihak lain, sehingga Allah menurunkan hukum-hukum syari’at islam. Dalam hal ini, secara global telah dituangkan secara tersurat oleh san khaliq dalam kitab suci yang diturunkan kepada utusan terakhir-Nya Nabiyuna Muhammad SAW., yakni Al-qur’an Al-Karim.

Allah tidak hanya menurunkan Al-qur’an saja untuk pedoman bagi manusia seluruhnya, melainkan juga menurunkan seorang rasul untuk menjadi panutan, sauri tauladan dan referensi dalam segala aspek kehidupan. Bila Al-Qur’an di umpamakan sebagai materi atau konsep bagi kehidupan, maka sang Rasullah (baca : Nabi Muhammad) lah yang merupakan praktik real dari Al-Qur’an tersebut. Sebagaimana yang dikatakan Ummul Mu’minin, sayyidah Aisyah “sesungguhnya Ahlaq beliau adalah Al-Qur’an”.[3]

Nabi Muhammad diciptakan sebagai panutan , suri tauladan.[4] serta menjadi rahmat bagi mahluk seluruh alam[5], eksistensi beliau menjadi suri tauladan tidak terbatas hanya pada zaman dimana beliau masih hidup, ataupun kurun setelahnya saja, melainkan kontinyu hingga esok akhir zaman. Karena misi beliau diciptakan tak lain untuk menyempurnakan akhlaq yang ada pada sebelumnya. Sebagaimana matan hadits[6] yang telah  maklum : بعثت لأتمم مكارم الأخلاق انما

Senada dengan misi Rasul untuk menyempurnakan Akhlak yang mulia tersebut, Allah sendiri telah memuji kemulyaan akhlak yang ada pada diri rosululloh.[7] Serta memerintah seluruh mahluknya untuk bersholawat kepadanya. Oleh karena itu, maka beliaulah satu-satunya mahluk Allah yang paling berhak menjadi rujukan dalam berakhlak hingga kelak. Maka, beruntunglah kita, para kaum muhammad, yang mempunyai pemimpin yang sangat beradab, orang yang tak sembarang orang, yang bisa meng-orangkan orang, serta sangat menjunjung tinggi nilai etika dengan siapapun, kapanpun, dan dimanapun, hususnya etika seorang hamba pada sang penciptanya.

Terakhir, mari kita teladani akhlaq beliau, mari kita jadikan Tindak Lampah beliau sebagai rujukan dalam setiap langkah untuk kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, supaya kelak kita bisa termasuk dalam firman Allah “كنتم خير أمة أخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر وتؤمنون بالله

Bila manusia mau sedikit merenungi, alangkah menjijikkan keberadaanya di dunia ini. Manusia diciptakan dari setetes air mani, yang tak satupun orang mau menerimanya bila diberi dengan Cuma-Cuma, kemudian setelah 40 minggu  lamanya. Allah memberi kehidupan dengan meniupkan ruh padanya, sehingga dia dapat hidup dalam kandungan sang ibu,  dari darah haidnya lah ia makan, mencukupi semua kebutuhanya, demi kelangsungan hidupnya. Sesuatau yang hampir semua orang jijik dan muak melihatnya, ternyata menjadi santapan faforit kita dulu, sehingga pada tahap terahir, manusia dikeluarkan dari lubang, ang menurut adat kebiasaannya, juga mengelluarkan benda-benda yang menjijikkan pula.

[1] واذ قال ربك للملائكة اني جاعل في الارض خليفة (Al-Qur’an Al-Karim, Surah Al-Baqoroh Ayat : 30.)

[2] وما ابرئ نفسي ان النفس لامارة بالسوء (Al-Qur’an Al-Karim, Surah Yusuf, Ayat : 53.)

[3] Lihat Musnad Ahmad, juz 41 Halaman : 148, Maktabah Syamilah.

[4] لقد كان لكم في رسول الله اسوة حسنة (Al-Qur’an Al-Karim, Surah Al-Ahzab Ayat : 21. )

[5] وما ارسلناك الا رحمة للعالمين (Al-Qur’an Al-Karim, Surah Al-Anbiya Ayat : 107.)

[6] Lihat Assunan Al Kubro lil baikaqi, juz 10 halaman 191, Maktabah Syamilah.

[7]  وانك لعلي خلق عظيم( Al-Qur’an Al-Karim, Surat Al-Qolam Ayat : 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: